Belajar Tentang Senja

foto: kangwiwid.com

kata kata mutiara tentang senja – Senja merupakan suatu pembatas antara siang serta malam. Senja merupakan pemisah, supaya keduanya tidak bertemu. Senja, suatu indikator berakhirnya cerita. Hadirnya semacam suatu kata pinta supaya si mentari lekas menggelamkan dirinya. Membuat sinar mentari itu meredup serta membiarkan awan jadi penguasa si langit.

Senja merupakan satu dari titah- Nya, tidak terdapat satupun yang bisa menolaknya. Apalagi senja itu sendiri juga wajib menerima. Hadirnya bagai pengundang si pelukis dunia yang namanya terkenal dimana- mana, yang sanggup melukis corak si langit bercorak jingga. Sampai tiap mata yang melihatnya tentu begitu terpesona.

  1. Saya sempat membenci senja, sebab setelahnya cuma hendak terdapat kegelapan dimana- mana

Bila disuruh memilah fajar ataupun senja, pasti saya hendak memilah fajar. Kau ketahui alasanku memilihnya? Fajar itu menjemput si mentari. Dengan anggunnya si mentari terbit serta menghangatkan langit. Menyinari sisa embun di pagi, mengisyaratkan pada segala isi semesta buat lekas mengawali cerita. Pasti, seluruhnya cerah, bercahaya dimana- mana, apalagi sekecil apapun celah dari ranting tumbuhan yang silih menyilang hendak senantiasa menemukan bias sinar.

Terbitnya si mentari, tanda- tanda dimulainya suatu hari yang baru. Seluruh canda tawa riang anak manusia tidak hendak bisa tersembunyi di situ. Indah bukan?

Serta senja? Bukannya saya benci. Saya sedikit enggan memanglah dengan hadirnya. Mengisyaratkan berakhirnya suatu cerita, menyisakan sepi. Tidak terdapat sinar yang begitu cerah yang sanggup menyinari bumi, cuma kelip lampu kecil yang seolah tidak berarti. Senantiasa saja kegelapan pemenangnya, hawa dingin serta rasa hening senantiasa muncul menemani. Menakutkan, mewajibkan cerita apapun wajib tersimpan. Entah cinta ataupun cedera, ataupun dapat jadi kenangan. Serta membiarkanya jadi penghantar tidur ataupun pengisi suatu mimpi. Sampai tiba lagi yang ku tunggu, fajar yang menjemput terbitnya mentari besok hari.

  1. Senja menyadarkanku, kalau cerah itu tidak senantiasa menemani

Kalian merupakan langitku. Langit yang senantiasa meneduhkanku, menemaniku kapanpun serta dimanapun saya terletak. Langit biru yang senantiasa dapat menenangkan hatiku. Begitu seterusnya kalian bila sinar senantiasa menerangi, hendak senantiasa bisa kunikmati indahmu.

Tetapi hari tidak selamanya siang. Saya sangat aman sampai saya kurang ingat bila malampun hendak tiba. Senjalah yang jadi indikator.

Katakan saja akulah mentari itu, yang jatuh cinta padamu hai langit. Semacam titah Tuhan, terdapat mentari, terdapat pula si rembulan. Saya melupakan kehadirannya yang memohon senja menjemputku. Ya, saya wajib menenggelamkan diri supaya si rembulan bisa menarik si langit, menampilkan sinar indahnya, rupa cantiknya, yang hadirnya senantiasa diiringi kelip bintang- bintang angkasa.

Semacam seperti itu saya serta kalian, saya yang terlena serta sangat aman hendak hadirmu yang sekian lama menemaniku. Saya memanglah tidak lagi hirau pada apa- apa yang menggodaku. Tetapi saya sangat dangkal buat paham, kalau banyak pula yang menggodamu, menginginkan hadirmu. Serta kau hirau pada itu. Dikala seperti itu kalian memilah berangkat, semacam langit yang memilah rembulan daripada si mentari.

  1. Senja mengajariku menghargai rasa sunyi

Sekali lagi, senja merupakan akhir dari suatu hari, membuat apa- apa yang sudah terjalin jadi suatu rangkaian cerita yang terususun apik. Semacam puzzle yang wajib dirangkai supaya tercipta rupa yang bisa dikenali, kisah- kisah dihari itu yang hendak jadi kenangan dikemudian hari.

Senja yang setelahnya pasti si malam hendak datang. Si langit tidak lagi hirau pada mentari yang sudah berangkat, karena dia cuma hirau pada perjumpaannya dengan si rembulan. Walaupun begitu, senja tidak sempat marah, dia cuma sepi. Menyembunyikan seluruh ceritanya sendiri, etah senang ataupun cedera.

Ya, dari senja itu saya belajar menghargai rasa sepi serta hening. Tidak senantiasa saya hendak bersama orang yang kupilih. Tidak senantiasa orang yang kupilih pula memilihku. Terkadang Tuhan membuat apa- apa yang begitu kita sayang berangkat, bukan sebab Tuhan tidak hirau. Bukan. Tuhan apalagi lebih hirau melebihi diri kita sendiri.

Juga dengan dikala ini, Tuhan menghadiahkan kesendirian untukku, membagikan suatu rasa sepi supaya saya menjenguk diri sendiri. Supaya saya hirau dengan diri sendiri. Saya bisa jadi tidak siuman, saya sudah terlampau mengacuhkan diri sendiri sebab padat jadwal membahagiakan orang lain, sangat padat jadwal mengkhawatirkan orang lain. Orang lain yang tidak lain merupakan kalian. Serta saat ini, saya berhentikan menyibukkan diri untukmu. Saya cuma hendak hirau dengan diriku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *